Thismilk's Blog

Just another WordPress.com weblog

lebah madu 26 Juni 2009

Filed under: Uncategorized — thismilk @ 3:52 AM

Oleh : Arista Febriani (0710543001)

LEBAH MADU

1. Anatomi dan Jenis- Jenis Lebah Madu

a. Sistematika lebah madu sebagai berikut:

· Kerajaan : Animalia

· Filum : Arthropoda

· Kelas : Insekta

· Ordo : Hymenoptera

· Famili : Apidae

· Genus : Apis

b. Anatomi Lebah Madu

Secara umum tubuh lebah madu terbagi menjadi 3 bagian yang terdiri dari:

1. Kepala (caput) dan peralatannya

· Antena berfungsi sebagai radar

· Mata

· Mulut

2. Dada (thorax) dan peralatannya

· Sayap terdiri dari 2 pasang

· Kaki terdiri dari 3 pasang

3. Perut (abdomen)

· Kantong madu atau nektar

· Kantong racun atau bisa.

· Jenis- Jenis Lebah Madu

Menurut asal-usulnya lebah dibagi 4 jenis berdasar penyebarannya:

1. Apis cerana, diduga berasal dari daratan Asia menyebar sampai Afghanistan, Cina maupun Jepang.

2. Apis mellifera, banyak dijumpai di daratan Eropa, misalnya Prancis, Yunani dan Italia serta di daerah sekitar Mediterania.

3. Apis dorsata, memiliki ukuran tubuh paling besar dengan daerah penyebaran sub tropis dan tropis Asia seperti Indonesia, Philipina dan sekitarnya. Penyebarannya di Indonesia merata mulai dari Sumatera sampai Irian.

4. Apis florea merupakan spesies terkecil tersebar mulai dari Timur Tengah, India sampai Indonesia. Di Indonesia orang menyebutnya dengan tawon klanceng.

Lebah merupakan insekta penghasil madu yang telah lama dikenal manusia. Sejak zaman purba manusia berburu sarang lebah di goa-goa, di lubang-lubang pohon dan tempat-tempat lain untuk diambil madunya. Lebah juga menghasilkan produk yang yang sangat dibutuhkan untuk dunia kesehatan yaitu royal jelly, pollen, malam (lilin) dan sebagainya. Selanjutnya manusia mulai membudidayakan dengan memakai gelodog kayu dan pada saat ini dengan sistem stup.

Produk yang dihasilkan lebah adalah:

a. Madu sebagai produk utama berasal dari nektar bunga merupakan makanan yang sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan, kosmetika dan farmasi.

b. Royal jelly dimanfaatkan untuk stamina dan penyembuhan penyakit, sebagai bahan campuran kosmetika, bahan campuran obat-obatan.

c. Pollen (tepung sari) dimanfaatkan untuk campuran bahan obat-obatan/ kepentingan farmasi.

d. Lilin lebah (malam) dimanfaatkan untuk industri farmasi dan kosmetika sebagai pelengkap bahan campuran.

e. Propolis (perekat lebah) untuk penyembuhan luka, penyakit kulit dan membunuh virus influensa.

Keuntungan lain dari beternak lebah madu adalah membantu dalam proses penyerbukan bunga tanaman sehingga didapat hasil yang lebih maksimal.

Jenis- Jenis Tanaman Pakan Lebah

Jenis-jenis tanaman pakan lebah antara lain :

1. Tanaman hutan : kaliandra, kayu putih, mahoni, lamtoro, sonokeling, akasia, sengon laut, asam.

2. Tanaman perkebunan atau buah-buahan : karet, kopi, kelapa, kapukrandu, kapas, the, belimbing, jambu, apel, mangga, rambutan, apokat, anggur, kelengkeng dan petai.

3. Tanaman pertanian : jagung, sorgum, kedelai, kacang tanah, lombok, berbagai jenis sayur-sayuran maupun bunga- bungaan.

Nektar

Nektar adalah suatu senyawa kompleks yang dihasilkan oleh kelenjar “ Necterifier” tanaman dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang bervariasi. Komponen utama dari nektar adalah sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Disamping itu, dalam nektar terdapat zat-zat gula lainnya seperti maltosa, melibiosa, ratinosa, serta turunan karbohidrat lain.

Zat-zat lain yang juga terdapat namun jumlahnya sangat sedikit yaitu; asam-asam organik, resin, protein, garam dan mineral. Konsentrasi gula nektar bervariasi mulai dari 5 % sampai 70 % atau lebih tergantung dari keadaan iklimnya, jenis tanaman serta faktor lainnya. Nektar juga mengandung air dari 40 – 80 %.

Pollen (Tepung Sari)

Pollen atau tepung sari diperoleh dari bunga yang dihasilkan oleh antenna sebagai sel kelamin jantan tumbuhan. Pollen dimakan oleh lebah madu terutama sebagai sumber protein, lemak, karbohidrat dan serta sedikit mineral. Satu koloni lebah madu membutuhkan sekitar 50 kg pollen per tahun. Sekitar separuh dari pollen tersebut digunakan untuk makanan larva.

Lebah memiliki kesukaan terhadap tepung sari tertentu. Tetapi kesukaan mengumpulkan nektar ini adalah karena kandungan gulanya. Makin banyak nektar mengandung gula, makin senang lebah mengunjungi bunga tersebut. Nektar yang hanya mengandung kurang dari 4% gula tidak menarik baginya. Lebah juga mengunjungi sejenis bunga pada waktu tertentu, sehingga karena sifat aktivitas ini, lebah membantu keberhasilan pembuahan tanaman. Di daerah tropis, curah hujan menentukan pertumbuhan tanaman. Curah hujan dan kelembaban udara mempengaruhi hasil nektar. Pada waktu musim hujan, hasil nektar baik karena tanaman pakan lebah berbunga lebat. Bunga mengeluarkan nektar hanya pada cuaca yang sejuk sehingga sering dilihat lebah mencari madu pada saat pagi atau sore hari. Aktifitas pada siang hari yang panas tidak dilakukan untuk mencari nektar karena bunga hanya sedikit mengeluarkan nektarnya selain itu lebah sibuk untuk mencari air guna menyejukkan sarangnya.

Pada saat pakan lebah mengalami masa paceklik, maka pemilik/peternak harus melakukan usaha :

1. Memindahkan stup atau menggembala lebah (biasanya jenis lebah unggul) ke tempat lain yang kaya akan pakan.

2. Memberi makanan buatan dari campuran gula dan air dengan perbandingan 1 : 1 atau 1 : 2 dan dimasukkan ke dalam stup

Cara pemberian pakan lebah adalah dengan menggembala lebah ke tempat di mana banyak bunga. Jadi disesuaikan dengan musim bunga yang ada.

Dalam penggembalaan yang perlu diperhatikan adalah :

a. Perpindahan lokasi dilakukan malam hari saat lebah tidak aktif

b. Bila jarak jauh perlu makanan tambahan (buatan)

c. Jarak antar lokasi penggembalaan minimum 3 km

d. Luas areal, jenis tanaman yang berbunga dan waktu musim bunga.

Tujuan utama dari penggembalaan ini adalah untuk menjaga kesinambungan produksi agar tidak menurun secara drastis. Pemberian pakan tambahan di luar pakan pokok bertujuan untuk mengatasi kekurangan pakan akibat musim paceklik/saat melakukan pemindahan stup saat penggeembalaan. Pakan tambahan tidak dapat meningkatkan produksi, tetapi hanya berfungsi untuk mempertahankan kehidupan lebah. Pakan tambahan dapat dibuat dari bahan gula dan air dengan perbandingan 1:1 dan adonan tepung dari campuran bahan ragi, tepung kedelai dan susu kering dengan perbandingan 1:3:1 ditambah madu secukupnya.

Koloni Lebah Madu

Dalam satu koloni lebah madu terdapat tatanan kehidupan yang penuh dengan gotong royong dan saling ketergantungan. Setiap strata dalam koloni berusaha menjunjung tinggi strata-strata yang lain dan berusaha memikul kewajibannya masing-masing untuk mencapai prestasi seoptimal mungkin, sehingga kelangsungan dan kesanggupan membentuk koloni sangat kuat dan sangat menakjubkan. Ada 3 strata dalam satu koloni lebah madu yaitu:

1. Strata ratu lebah

Ukuran tubuh ratu lebah yaitu dua kali panjang lebah pekerja dan lebah jantan. Tugas wajibnya adalah bertelur terus-menerus sampai kemampuan bertelur berakir. Ratu lebah mampu bertelur sebanyak 1000 – 2000 butir telur per hari. Umurnya dapat mencapai 3 – 5 tahun. Dalam satu koloni lebah madu hanya ada seekor ratu lebah .

2. Strata lebah pekerja

Strata lebah pekerja merupakan strata yang jumlahnya paling banyak yaitu sekitar 20.000 – 90.000 ekor dalam satu koloni. Tugas utama lebah pekerja yaitu; mengumpulkan nektar, tepungsari dan air dari berbagai bunga-bunga tanaman yang kaya akan protein, vitamin dan karbohidrat;

– merawat ratu, lebah jantan dan larva;

– membangun sel sarang;

– menjaga sarang dari musuh-musuhnya;

– membersihkan sarang, menyimpan madu dalam sel dan memperbaiki sel sarang yang rusak.

Lebah pekerja mempunyai senjata andalan berupa sengat berduri. Sengat itu menyerupai bentuk kait yang dilengkapi dengan kantong racun. Sekali alat penyengat itu digunakan untuk menyerang lawan, maka lebah pekerja akan mati. Umur lebah pekerja sekitar 35 – 42 hari.

3. Strata lebah jantan

Strata lebah jantan merupakan strata kedua terbesar dalam koloni lebah madu. Jumlahnya berkisar dari 100 – 250 ekor dalam satu koloni. Tugas utamanya adalah mengawini ratu lebah. Dalam setiap perkawinan hanya seekor lebah jantan yang terbaik, akan terpilih dan berhak mengawini ratu lebah. Perkawinan berlangsung di alam terbuka. Sekali melakukan perkawinan dengan ratu lebah, maka lebah jantan akan mati. Umur lebah jantan sekitar 75 – 90 hari.

Cara Budidaya Lebah Madu

Cara budidaya lebah madu yang dilakukan oleh petani di desa utamanya di tepi hutan biasanya masih merupakan cara tradisional menggunakan glodog. Cara ini dapat ditingkatkan dengan menggunakan stup atau kotak yang terbuat dari papan setebal 1,5 cm dengan ukuran :

– Tutup : 28 cm x 30 cm x 5 cm

– Kotak : 37 cm x 32 cm x 17 cm.

Dalam stup terdapat bingkai sarang antara 7-10 buah. Stup sebaiknya dicat putih agar lebih awet. Satu stup dapat berisi 8.000 s.d. 20.000 ekor Apis cerana, sedangkan untuk Apis mellifera mencapai 80.000 ekor, sehingga ukuran stup dibuat lebih besar. Untuk memindahkan keluarga lebah ke dalam stup dapat ditempuh cara sebagai berikut :

1. Keluarga lebah yang akan dipindah diasapi pelan-pelan.

2. Ratu ditangkap dan dimasukkan ke dalam kurungan kecil kemudian diletakkan di dalam stup.

3. Pilih sarang yang baik (penuh telur, larva, tepungsari dan sedikit madu)

4. Sisiran sarang dilepas kemudian diikatkan pada bingkai dengan tali rafia, selanjutnya dimasukkan ke dalam stup.

5. Masukkan seluruh keluarga lebah.

6. Tutup stup dan letakkan di tempat yang sudah disiapkan.

7. Setelah lebah dalam keadaan tenang, kurungan ratu dibuka.

8. Stup jangan dipindah-pindah sebelum sarang melekat pada bingkai.

Lokasi penempatan stup sedapat mungkin dijaga kebersihannya dan sering diamati untuk mencegah gangguan baik dari serangga, burung, tikus maupun hama yang lain.

Pada saat pakan lebah mengalami masa paceklik, maka pemilik/peternak harus melakukan usaha :

1. Memindahkan stup atau menggembala lebah (biasanya jenis lebah unggul) ke tempat lain yang kaya akan pakan.

2. Memberi makanan buatan dari campuran gula dan air dengan perbandingan 1 : 1 atau 1 : 2 dan dimasukkan ke dalam stup.

Budidaya Lebah Madu Sistem”GELODOG” Modern

1. Peti Lebah Madu (Stup)

Peti lebah madu (sistem gelondong modern) sangat diperlukan dal usaha pemeliharaan lebah madu. Pemeliharaan lebah madu dalam peti akan mempermudah pengelolaan dan pemanenannya, tanpa merusak koloni lebah madu.

Stup dapat dibuat tunggal atau bertingkat yang ditumpuk satu sama lain. Bila stup dibuat bertingkat, maka peti paling bawah berfungsi sebagai tempat ratu dan pertumbuhan serta perkembangbiakan koloninya. Sedangkan peti yang diatasnya berfungsi sebagai tempat memproduksi madu.

Stup perlu diberi penyangganya untuk menghindari serangan rayap, ular, atau binatang lain. Tinggi kaki penyangga stup dari tanah berkisar 50 cm – 100 cm.

Ukuran stup untuk lebah madu umumnya sebagai berikut ; panjang x lebar x tinggi untuk tutupannya adalah 51 cm x 41 cm x 5 cm. Sedangkan untuk kotaknya adalah 50 cm x 40 cm x 28 cm. Tebal papan yag digunakan adalah 1.5 cm.

Pada bagian dalam stup terdapat 6 – 10 sisiran atau bingkai dengan ukuran panjang bagian atasn dengan tonjolan yaitu 49 cm, panjang bagian bawah 40 cm, tingginya 21cm, tebal kayu penggantung 2.5 cm, tebal kayu penguat 1.5 cm, dan lebarnya 3 cm untuk tempat pembuatan sarang lebah madu yang berbentuk heksagonal. Jarak antara sisiran yang satu dengan yang lain sekitar 2 cm agar lebah madu tersebut dapat bergerak secara leluasa.

Ruang antara peti produksi madu dan peti tempat ratu lebah harus diberi pembatas berupa sekat dari kawat kasa agar ratu lebah tidak masuk dan mengkonsumsi serta meletakan telurnya di dalam tumpukan madu.

Pintu keluar-masuknya lebah madu harus dibuat dengan tinggi yang sama dan sejajar dengan letak sisiran.

2. Penempatan Stup

Penempatan stup yang ideal yaitu harus dekat dengan jenis-jenis tanaman yang banyak mengandung nektar dan serbuk dari sumber pakan lebah madu. Syarat yang lain untuk menempatkan stupnya adalah harus jauh dari tempat-tempat berasap dan rumah-rumah tempat tinggal.

3. Memindahkan Lebah Madu ke Dalam Stup

Pemula yang ingin belajar budidaya lebah madu, sebaiknya menggunakan spesies lebah madu Apis cerana yang banyak terdapat dimana-mana, baik dirongga-rongga batang pohon atau di atap rumah tua yang tidak dihuni. Spesies lebah tersebut dapat dipindahkan ke dalam stup untuk dibudidayakan sebagaimana biasanya. Cara pemindahannya sebagai berikut :

1. Pakailah masker untuk melindungi wajah, sarung tangan, baju dan celana yang dapat menahan sengatan lebah.

2. Hembuskan asam rokok ke koloni lebah untuk menyingkirkan lebah pekerja yang melindungi ratu lebah.

3. Cari ratu lebah, ambil dan masukan dengan hati-hati ke dalam kotak stup tempat ratu.

4. Pilihlah tiga atau lebih sisiran sarang yang masih baik (ada telur, larva, pupa, tepung sari bunga, dan sedikit madu). Sisiran tersebut disayat dan lekatkan pada bingkai sisiran dan ikat dengan tali arafia, selanjutnya masukan sisiran tersebut ke dalam stup yang telah terisi ratu lebah.

5. Masukan semua koloni lebah ke dalam peti lebah (stup), tutup pintunya dan taruhlah di tempat yang sudah dipersiapkan.

6. Apabila dalam beberapa jam kemudian, koloni lebah dapat tenang, maka pintu pada kotak ratu lebah dapat dibuka.

7. Untuk beberapa hari lamaya, peti lebah (stup) jangan dipindah-pindahkan. Biarkanlah sarang lebah madu melekat pada bingkai sisiran sarang dan tali arafia terlepas sendiri digigit oleh lebah pekerja.

8. Pemindahan lebah madu ini sebaiknya dilakukan pada malam hari.

4. Melepas Lebah Madu

Apabila koloni lebah sudah betah tinggal di dalam stup dan sudah mencintai ratunya, maka lebah madu tersebut dapat dilepas dengan cara membuka pintu keluar-masuknya. Pelepasan lebah madu harus dilakukan pada pagi hari dimana saat bunga tanaman mekar.

5. Pemanenan

Pemanenan dan penanganan madu hasil pemeliharaan lebah madu, merupakan tugas paling pokok yang harus dikuasai peternak lebah madu. Pemanenan dan penanganan yang baik dapat menghasilkan madu yang memiliki kualitas baik.

Pengambilan madu sebaiknya dilakukan setelah semua sisiran hampir terpenuhi dengan madu dan harus pada sore hari, karena pada saat itu lebah madu sudah berkumpul semua dalam peti lebah. Pengambilan madu harus dilakukan secara teratur yaitu bila sisiran yang berisi madu sudah ditutupi dengan lilin lebah, paling sedikit sepertiga dari sel-sel sisirannya. Sisiran-sisiran madu yang sudah diambil madunya harus dimasukan kembali ke dalam peti lebah. (Lamerkabel, 2008).

Penyakit dan Hama Lebah

1. Penyakit

Di daerah tropis penyakit lebah jarang terjadi dibandingkan dengan daerah sub tropis/daerah beriklim salju. Iklim tropis merupakan penghalang terjalarnya penyakit lebah. Kelalaian kebersihan mendatangkan penyakit. Beberapa penyakit pada lebah dan penyebabnya antara lain:

a. Foul Brood ; ada dua macam penyakit ini yaitu American Foul Brood disebabkan oleh Bacillus larva dan European Foul Brood. Penyebab: Streptococcus pluton. Penyakit ini menyerang sisiran dan tempayak lebah.

b. Chalk Brood

Penyebab: jamur Pericustis Apis. Jamur ini tumbuh pada tempayak dan menutupnya hingga mati.

c. Stone Brood

Penyebab: jamur Aspergillus flavus Link ex Fr dan Aspergillus fumigatus Fress. Tempayak yang diserang berubah menjadi seperti batu yang keras.

d. Addled Brood

Penyebab: telur ratu yang cacat dari dalam dan kesalahan pada ratu.

e. Acarine

Penyebab: kutu Acarapis woodi Rennie yang hidup dalam batang tenggorokkan lebah hingga lebah mengalami kesulitan terbang.

f. Nosema dan Amoeba

Penyebab: Nosema Apis Zander yang hidup dalam perut lebah dan parasit Malpighamoeba mellificae Prell yang hidup dalam pembuluh malpighi lebah

dan akan menuju usus.

2. Hama

a. Hama yang sering mengganggu lebah antara lain:

b. Burung, sebagai hewan yang juga pemakan serangga menjadikan lebah sebagai salah satu makanannya.

c. Kadal dan Katak, gangguan yang ditimbulkan sama dengan yang dilakukan oleh burung.

d. Semut, membangun sarang dalam stup dan merampas makanan lebah.

e. Kupu-kupu, telur kupu-kupu yang menetas dalam sisiran menjadi ulat yang dapat merusak sisiran.

f. Tikus, merampas madu dan merusak sisiran.

Pencegahan Serangan Penyakit dan Hama

a. Upaya mencegah serangan penyakit dan hama tindakan yang perlu adalah:

b. Pembersihan stup setiap hari.

c. Memperhatikan abnormalitas tempayak, sisiran dan kondisi lebah.

d. Kaki-kaki stup harus diberi air untuk mencegah serangan semut.

e. Pintu masuk dibuat seukuran lebah.

Panen Madu

Panen madu dilaksanakan pada 1-2 minggu setelah musim bunga. Ciri-ciri

madu siap dipanen adalah sisiran telah tertutup oleh lapisan lilin tipis.

Sisiran yang akan dipanen dibersihkan dulu dari lebah yang masih menempel

kemudian lapisan penutup sisiran dikupas. Setelah itu sisiran diekstraksi untuk

diambil madunya.

Urutan proses panen madu yaitu:

1. Mengambil dan mencuci sisiran yang siap panen, lapisan penutup dikupas dengan pisau.

2. Sisiran yang telah dikupas diekstraksi dalam ekstraktor madu.

3. Hasil disaring dan dilakukan penyortiran.

4. Disimpan dalam suhu kamar untuk menghilangkan gelembung udara.

5. Pengemasan madu dalam botol.

Apabila dalam sarang lebah sudah banyak madunya, maka segera dilakukan pemanenan dengan memperhatikan langkah-langkah berikut :

1. Panen dilakukan pada pagi maupun sore hari

2. Pilih sarang/sisiran yang baik, yaitu bagian sel-sel madunya tertutup

3. Sisiran dilepas dari bingkai, pisahkan lapisan lilin dan lebah yang masih menempel secara hati-hati kemudian bingkai dikembalikan lagi ke dalam stup

4. Madu diproses dengan cara diperas (secara tradisional) atau menggunakan ekstraktor. Produksi madu Apis mellifera 30-50 kg/stup/th


 

about kelinci

Filed under: Uncategorized — thismilk @ 3:07 AM

Oleh :Renandhietya 0710510029

Kelinci adalah hewan mamalia dari famili Leporidae. Dulunya, hewan ini adalah hewan liar yang hidup di Afrika hingga ke daratan Eropa. Pada perkembangannya, tahun 1912, kelinci diklasifikasikan dalam ordo Lagomorpha. Ordo ini dibedakan menjadi dua famili, yakni Ochtonidae (jenis pika yang pandai bersiul) dan Leporidae (termasuk di dalamnya jenis kelinci dan terwelu).

Di Indonesia banyak terdapat kelinci lokal, yakni jenis kelinci jawa (Lepus negricollis) dan kelici sumatera (Nesolagus netseherischlgel). Kelinci jawa, diperkirakan masih ada di hutan-hutan sekitar wilayah Jawa Barat. Warna bulunya cokelat perunggu kehitaman. Ekornya berwarna jingga dengan ujungnya yang hitam. Berat kelinci jawa dewasa bisa mencapai 4 kg. Sedangkan kelinci sumatera, merupakan satu-satunya kelinci asli Indonesia. Habitatnya adalah hutan di pegunungan Pulau Sumatera. Panjang badannya mencapai 40 cm. Warna bulunya kelabu cokelat kekuningan.

Kelinci memiliki sistem pencernaan yang amat rumit, dan mereka tidak dapat mencerna semua makanan dengan cara yang sama baiknya. Sebagai contoh, mereka dapat mencerna fruktosa (zat gula pada buah-buahan) dengan sangat baik, namun kemampuan untuk mencerna gula jenis lain sangat rendah. Karenanya permen dan kue-kue manis dapat membuat kelinci menjadi sangat sakit. Hal ini disebabkan karena gula dan zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna oleh usus halus kelinci akan menumpuk di cecum, dan memancing bertambahnya bakteri produsen racun yang menyebabkan banyak penyakit pada kelinci.

Kelinci dewasa menyerap protein (sampai 90%) di usus halus mereka, namun tergantung pada sumbernya. Protein dari alfalfa, sebagai contohnya, tidak dapat dicerna oleh kelinci. Kelinci sangat payah dalam hal mencerna selulosa,daya cerna yang lemah terhadap serat dan kecepatan pencernaan kelinci untuk menyingkirkan semua partikel yang sulit dicerna menyebabkan kelinci membutuhkan jumlah makanan yang besar. Proses pencernaan dimulai di mulut, dimana makanan akan diremukkan oleh gigi. Ketika seekor kelinci makan, ia akan mengunyah kira-kira 300 kali dan mencampurkannya dengan liurnya. Ketika makanan sudah terasa halus, kelinci akan menelan makanan melewati kerongkongan dan makanan akan berpindah ke lambung, disana kontraksi otot akan meremas dan memutar makanan, memisahkan partikel-partikel dan mencampurkan mereka dengan cairan lambung. Namun fungsi utama lambung sendiri sebagai organ penyimpanan dan sterilisasi sebelum makanan dipindah ke usus halus.

Bagian penting dari pencernaan baru akan dimulai di usus halus, dimana asam lambung dineutralisir dan enzim-enzim dari hati dan pankreas dicampur dengan makanan. Enzim ini penting untuk mencerna dan menyerap karbohidrat, protein, lemak dan vitamin. Kemudian 90% fruktosa, protein, dan sari-sari makanan lain akan diserap, namun selulosa dan serat lain yang tidak dapat dicerna dengan baik (termasuk kulit pohon yang sering digerogoti kelinci maupun serat yang ada di pellet mereka) akan disingkirkan.

Dalam cecum, bakteri akan mencerna selulosa, hampir semua jenis gula, sari-sari makanan dan protein berlebih yang tidak tercerna di usus halus. Setiap 3 sampai 8 jam cecum akan berkontraksi dan memaksa material yang ada di dalamnya untuk kembali ke usus besar, dimana sisa-sisa tersebut akan dilapisi oleh lendir, dan berpindah ke anus. Sisa-sisa ini akan menjadi kotoran yang berbentuk seperti anggur hitam kecil-kecil yang disebut “cecothropes” atau “cecal pills”. Untungnya, proses ini lebih sering terjadi dimalam hari. Kelinci biasanya akan memakan cecothropesnya kembali langsung dari anus untuk mencerna kembali sari-sari makanan yang tidak tercerna tadi dan menerima nutrisi yang lebih banyak. Meski terlihat sangat menjijikan, proses ini sangat penting bagi pencernaan kelinci dan menjaga agar kelincimu tetap sehat!

Untuk sistem perkawinan pada ternak kelinci dapat dilakukan secara alami maupun dengan inseminasi buatan, biasanya dalam mengawinkan kelinci yang betina dimasukkan pada jantan, bilamana kelinci betina sedang birahi, dan biarkan bebnerapa hari sampai terjadi kebuntingan yang ditandai bahwa kelinci betina tidak mau menerima lagi pejantan, sehingga kelinci bisa dikawinkan kapan saja, sex ratio antara jantan dan betina adalah 1 : 10, namun perlu diketahui berahi pada kelinci bersifat induksi yang berarti bahawa bila terjadi rangsangan maka akan terjadi ovulasi, dan ovulasi terjadi 10 jam setelah terjadi rangsangan, dan fertilisasai terjadi 1 – 2 jam setelah ovulasi, daya fertil ovum 6 jam, lama bunting rata-rata 30 hari, siklus estrus 12 – 14 hari ditambah 4 hari masa menolak, umur dikawinkan 5 – 7 bulan atau tergantung pada type kelinci, biasanya type kecil lebih cepat dewasa kelamin dari pada type besar. Bila kelinci menyusui anaknya maka perkawinan kembali dapat dilakukan 28 – 42 hari setelah melahirkan, atau setiap saat bilamana tanpa menyusui. Berat lahir rata-rata pada kelinci 64 gram, dengan pertambahan berat badan sekitar 29 – 30 garam per ekor perhari..

 

Hello world!

Filed under: Uncategorized — thismilk @ 1:49 AM

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 

susu putih

Filed under: Uncategorized — thismilk @ 12:00 AM

Oleh : Harista W

0710530012

Susu adalah bahan pangan yang dikenal kaya akan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia.Susu binatang (biasanya sapi) juga diolah menjadi berbagai produk seperti mentega, yoghurt, es krim, keju, susu kental manis, susu bubuk dan lain-lainnya untuk konsumsi manusia. Air susu yang banyak menyebar dan dikenal dipasaran adalah air susu sapi. Sebenarnya air susu kambing dan kerbau tidak kalah nilai gizinya dibandingkan dengan air susu sapi. Hanya karena faktor kebiasaan dan ketersediaannya maka air susu sapi lebih menonjol dipasaran.

Kalsium merupakan zat utama yang diperlukan dalam pembentukan tulang, dan zat gizi ini antara lain dapat diperoleh dari susu. Pada susu juga terkandung zat-zat gizi yang berperan dalam pembentukan tulang seperti protein, fosfor, vitamin D, vitamin C dan besi. Selain zat-zat gizi tersebut, susu juga masih mengandung zat-zat gizi penting lainnya yang dapat meningkatkan status gizi. Pada perkembangan selanjutnya, dengan tujuan meningkatkan kualitas susu (dan juga untuk lebih menarik minat konsumen), bentuk olahan susu banyak yang diperkaya dengan zat gizi tambahan, misalnya dengan zat gizi kalsium (yang dikenal sebagai susu high calcium). Selain itu ada juga dengan cara mengurangi kadar lemak susu (low fat) sehingga secara proporsional kandungan gizi lainnya termasuk kalsium menjadi lebih tinggi (high calcium). Jenis susu ini biasanya terdapat dalam bentuk susu bubuk yang pada pengolahannya memerlukan suhu sangat tinggi, sehingga dapat menurunkan kandungan gizi susu. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas dan untuk mempertahankan kandungan gizi pada susu bubuk, seringkali dilakukan melalui proses pengayaan (enrichment) zat gizi.

Air Susu Sebagai Bahan Makanan

Air susu merupakan bahan makanan utama bagi makhluk yang baru lahir, baik bagi hewan maupun manusia. Sebagai bahan makanan/minuman air susu sapi mempunyai nilai gizi yang tinggi, karena mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh seperti Calsium, Phosphor, Vitamin A, Vitamin B dan Riboflavin yang tinggi. Komposisinya yang mudah dicerna dengan kandungan protein, mineral dan vitamin yang tinggi, menjadikan susu sebagai sumber bahan makanan yang fleksibel yang dapat diatur kadar lemaknya, sehingga dapat memenuhi keinginan dan selera konsumen.

Air susu termasuk jenis bahan pangan hewani, berupa cairan putih yang dihasilkan oleh hewan ternak mamalia dan diperoleh dengan cara pemerahan (Hadiwiyoto, S., 1983). Pada saat ini di Sumatera Utara susu dihasilkan di Kabupaten Deli Serdang, Simalungun, Binjai dan Medan. Untuk pulau Jawa, susu dihasilkan dan diproses antara lain di daerah Jawa Barat yaitu Lembang dan ujung berung, Jawa Tengah yaitu di Semarang, Ungaran dan Boyolali serta di Jawa Timur yaitu di Pujon, Nongko jajar, Batu dan Grati.

Di Amerika Serikat, wilayah-wilayah utama penghasil susu terletak didekat kawasan urban atau perkotaan yang padat penduduk. Negara bagian Amerika Serikat yang merupakan pengahasil susu utama adalah Wisconsin, California, New York, Minnesota, Pensylvania, Michican, Ohio dan Iowa. Produksi susu total di Amerika Serikat senantiasa mengikuti perkembangan jumlah penduduk. Hal ini dimungkinkan karena meningkatnya produksi susu tiap ekor serta menurunnya konsumsi susu dan produk susu (dari 325 kg/kapita pada tahun 1950 menjadi 250 kg pada saat sekarang). Sejak tahun 1950, produksi susu tiap ekor sapi telah berlipat dua, yaitu antara 4500 sampai 5400 kg susu per ekor/tahun sebagai tingkat produksi yang umum. Banyak sapi yang istimewa yang dapat menghasilkan 13.500 kg susu/tahun

SIFAT FISIK AIR SUSU :

1. Warna air susu :

Warna air susu dapat berubah dari satu warna kewarna yang lain, tergantung dari bangsa ternak, jenis pakan, jumlah lemak, bahan padat dan bahan pembentuk warna. Warna air susu berkisar dari putih kebiruan hingga kuning keemasan. Warna putih dari susu merupakan hasil dispersi dari refleksi cahaya oleh globula lemak dan partikel koloidal dari casein dan calsium phosphat. Warna kuning adalah karena lemak dan caroten yang dapat larut. Bila lemak diambil dari susu maka susu akan menunjukkan warna kebiruan.

2. Rasa dan bau air susu :

Kedua komponen ini erat sekali hubungannya dalam menentukan kualitas air susu. Air susu terasa sedikit manis, yang disebabkan oleh laktosa, sedangkan rasa asin berasal dari klorida, sitrat dan garam-garam mineral lainnya. Buckle et al., (1987) menyatakan bahwa cita rasa yang kurang normal mudah sekali berkembang di dalam susu dan hal ini mungkin merupakan akibat dari:

  1. Sebab-sebab fisiologis seperti cita rasa pakan sapi misalnya alfalfa, bawang merah, bawang putih, dan cita rasa algae yang akan masuk ke dalam susu jika bahan-bahan itu mencemari pakan dan air minum sapi.

  2. Sebab-sebabdari enzim yang menghasilkan cita rasa tengikkarena kegiatan lipase pada lemak susu.

  3. Sebab-sebab kimiawi, yang disebabkan oleh oksidasi lemak.

  4. Sebab-sebab dari bakteri yang timbul sebagai akibat pencemaran dan pertumbuhan bakteri yang menyebabkan peragian laktosa menjadi asam laktat dan hasil samping metabolik lainnya yang mudah menguap.

  5. Sebab-sebab mekanis, bila susu mungkin menyerap cita rasa cat yang ada disekitarnya, sabun dan dari larutan chlor. Bau air susu mudah berubah dari bau yang sedap menjadi bau yang tidak sedap. Bau ini dipengaruhi oleh sifat lemak air susu yang mudah menyerap bau disekitarnya. Demikian juga bahan pakan ternak sapi dapat merubah bau air susu.

3. Berat jenis air susu :

Air susu mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada air. BJ air susu = 1.027-1.035 dengan rata-rata 1.031. Akan tetapi menurut codex susu, BJ air susu adalah 1.028. Codex susu adalah suatu daftar satuan yang harus dipenuhi air susu sebagai bahan makanan. Daftar ini telah disepakati para ahli gizi dan kesehatan sedunia, walaupun disetiap negara atau daerah mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Berat jenis harus ditetapkan 3 jam setelah air susu diperah. Penetapan lebih awal akan menunjukkan hasil BJ yang lebih kecil. Hal ini disebabkan oleh :

  1. perubahan kondisi lemak

  2. Adanya gas yang timbul didalam air susu

4. Kekentalan air susu (viskositas)

Seperti BJ maka viskositas air susu lebih tinggi daripada air. Viskositas air susu biasanya berkisar 1,5 – 2,0 cP. Pada suhu 20°C viskositas whey 1,2 cP, viskositas susu skim 1,5 cP dan susu segar 2,0 cP. Bahan padat dan lemak air susu mempengaruhi viskositas. Temperatur ikut juga menentukan viskositas air susu. Sifat ini sangat menguntungkan dalam pembuatan mentega.

5. Titik beku dan titik cair dari air susu :

Pada codex air susu dicantumkan bahwa titik beku air susu adalah –0.500°C Akan tetapi untuk Indonesia telah berubah menjadi –0.520°C. Titik beku air adalah 0°C. Apabila terdapat pemalsuan air susu dengan penambahan air, maka dengan mudah dapat dilakukan pengujian dengan uji penentuan titik beku. Karena campuran air susu dengan air akan memperlihatkan titik beku yang lebih besar dari air dan lebih kecil dari air susu. Titik didih air adalah 100°C dan air susu 100.16°C. Titik didih juga akan mengalami perubahan pada pemalsuan air susu dengan air.

6. Daya cerna air susu :

Air susu mengandung bahan/zat makanan yang secara totalitas dapat dicerna, diserap dan dimanfaatkan tubuh dengan sempurna atau 100%. Oleh karena itu air susu dinyatakan sangat baik sebagai bahan makanan. Tidak ada lagi bahan makanan baik dari hewani terlebih-lebih nabati yang sama daya cernanya denagn air susu.

SIFAT KIMIA SUSU :

Keasaman dan pH Susu : susu segar mempunyai sifat ampoter, artinya dapat bersifat asam dan basa sekaligus. Jika diberi kertas lakmus biru, maka warnanya akan menjadi merah, sebaliknya jika diberi kertas lakmus merah warnanya akan berubah menjadi biru. Potensial ion hydrogen (pH) susu segar terletak antara 6.5 – 6.7. Jika dititrasi dengan alkali dan kataliasator penolptalin, total asam dalam susu diketahui hanya 0.10 – 0.26 % saja. Sebagian besar asam yang ada dalam susu adalah asam laktat. Meskipun demikian keasaman susu dapat disebabkan oleh berbagai senyawa yang bersifat asam seperti senyawa-senyawa pospat komplek, asam sitrat, asam-asam amino dan karbondioksida yang larut dalam susu. Bila nilai pH air susu lebih tinggi dari 6,7 biasanya diartikan terkena mastitis dan bila pH dibawah 6,5 menunjukkan adanya kolostrum ataupun pemburukan bakteri.

KOMPOSISI AIR SUSU

Secara alamiah yang dimaksud dengan susu adalah hasil pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya, yang dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai bahan makanan, yang aman dan sehat serta tidak dikurangi komponen-komponennya atau ditambah bahan-bahan lain. Hewan hewan yang susunya digunakan sebagai bahan makanan adalah sapi perah, kerbau unta, kambing perah (kambing etawah) dan domba. Berbagai sapi diternakkan untuk diperah susunya antara lain Ayrshire, Brown Swiss, Guernsey, Zebu, Sapi Grati, Fries Holand dan turunannya.

Susu yang baik apabila mengandung jumlah bakteri sedikit, tidak mengandung spora mikrobia pathogen, bersih yaitu tidak mengandung debu atau kotoran lainnya, mempunyai cita rasa (flavour) yang baik, dan tidak dipalsukan.

Komponen-komponen susu yang terpenting adalah protein dan lemak. Kandungan protein susu berkisar antara 3 – 5 persen sedangkan kandungan lemak berkisar antara 3 – 8 persen. Kandungan energi adalah 65 kkal, dan pH susu adalah 6,7. Komposisi air susu rata-rata adalah sebagai berikut :

komposisi air susu

komposisi air susu

Komposisi air susu dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya :

  1. Jenis ternak dan keturunannya (hereditas).

  2. Tingkat laktasi.

  3. Umur ternak.

  4. Infeksi/peradangan pada ambing.

  5. Nutrisi/pakan ternak.

  6. Lingkungan dan

  7. Prosedur pemerahan susu.

Keseluruhan faktor-faktor ini dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu faktor-faktor yang ditimbulkan oleh lingkungan, genetik dan management.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous.2009.Susu.http://id.wikipedia.org/wiki/Susu

Anonimous.—-.Pendahuluan.http://www.damandiri.or.id/file/suryonoipbbab1.pdf.

Saleh Eniza. 2004. Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. http://library.usu.ac.id/download/fp/ ternak-eniza2.pdf.

 

Penyimpanan Pakan Ternak

Filed under: Uncategorized — thismilk @ 12:00 AM

Oleh : Anis Mei Munazaroh

0710520013

Penyimpanan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang selalu terkait dengan waktu yang bertujuan untuk mempertahankan dan menjaga komoditi yang disimpan dengan cara menghindari, menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut. Dalam dunia peternakan pakan merupakan faktor penentu keberhasilan usaha, dimana ketersediannya sangat terkait dengan waktu, sehingga perlu dilakukan penyimpanan. Penyimpanan pakan yang terlalu lama akan menurunkan kualitas dari pakan tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpanan pakan adalah tipe atau jenis pakan, periode atau lama penyimpanan, metode penyimpanan, temperatur, kandungan air, kelembaban udara, (Williams, 1991), serangga, bakteri, kapang, binatang pengerat dan komposisi zat-zat makanan (Hall, 1970). Waktu penyimpanan cenderung untuk meningkatkan kadar air bahan, yang akan menunjang pertumbuhan jamur yang pada gilirannya akan lebih mempercepat kerusakan bahan tersebut (Wijandi, 1977). Daya simpan tiap jenis bahan pakan yang disimpan berbeda tergantung kandungan air bahan.
Bahan dengan kandungan air yang lebih rendah akan lebih tinggi daya simpannya dibandingkan dengan bahan dengan kadar air yang lebih tinggi (Hall, 1980).
Ada empat tipe kerusakan bahan pakan yang disimpan pada kondisi yang buruk yaitu : a) kerusakan fisik dan mekanik, yaitu kerusakan yang terjadi jika bahan tidak ditangani secara hati-hati waktu kegiatan panen, transportasi, pengolahan dan penyimpanan; b) kerusakan kimiawi, yaitu meliputi kerusakan bahan akibat reaksi kimia atau reaksi pencoklatan non enzimatik yang merusak partikel karbohidrat, penurunan kandungan vitamin dan asam nukleat ; c) kerusakan enzimatik, yaitu terjadi akibat kerja beberapa enzim seperti protease, amilase dan lipase, misalnya pemecahan molekul lemak menjadi asam lemak bebas dan glyserol oleh enzim lipolitik dan aktivitas enzim proteolitik memecah protein menjadi polipeptida dan asam amino (Syarief dan Haryadi, 1984), dan d) kerusakan biologis, terjadi akibat serangan serangga, binatang pengerat, burung, mikroorganisme selama penyimpanan (Williams, 1991).

ASPEK KIMIAWI DALAM PENYIMPANAN PAKAN

Proses kimiawi yang dapat terjadi dalam penyimpanan pakan adalah terjadi perubahan atau kerusakan kandungan lemak dari pakan tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mempercepat kerusakan lemak dari pakan adalah kandungan minyak, kontak dengan udara, cahaya, temperatur ruangan, kadar air bahan dan adanya katalis (Patterson, 1989). Kerusakan bijian dan bahan makanan pada penyimpanan dengan kondisi temperatur dan kadar air tinggi, terutama disebabkan oleh meningkatnya aktivitas enzim lipase dalam hidrolisis lemak (Pomeranz, 1974) dimana lemak dipecah menjadi asam lemak bebas dan glycerol (Kaced, et al., 1984). Ketengikan yang terjadi pada bahan yang mengandung minyak dan lemak yaitu ketengikan hidrolisis dan ketengikan oksidasi yang berbeda dalam mekanismenya (Gunawan dan Tangendjaja, 1986).


Ketengikan hidrolisis merupakan akibat reaksi antara bahan pakan dengan air. Pada penyimpanan terlalu lama dimana terjadi kenaikan kandungan air biasanya terjadi ketengikan hidrolisis, akan tetapi ketengikan ini tidak selamanya terjadi bersamaan dengan ketengikan yang lain (Hattab, 1977). Pada reaksi hidrolisis akan dihasilkan gliserida dan asam lemak bebas dengan rantai pendek (C4 – C12). Akibat yang ditimbulkan dari reaksi ini adalah terjadinya perubahan bau dan rasa dari minyak atau lemak, yaitu timbulnya rasa tengik (Djatmiko dan Pandjiwidjaja, 1984).


Sebagai illustrasi, dedak padi yang mempunyai kandungan minyak yang tinggi mudah terhidrolisis oleh enzim lipase bebas. Hidrolisis diakibatkan oleh reaksi antara lipase dan minyak di dalam dedak padi yang menghasilkan asam lemak bebas (Gunawan dan Tangendjaja, 1986). Kadar asam lemak bebas semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu penyimpanan yaitu sebelum penyimpanan 16.5 % dan setelah dua bulan penyimpanan 80.7 % . Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas enzim lipase sangat tinggi sehingga hampir seluruh minyak dapat terhidrolisa dalam waktu dua bulan penyimpanan.


Ketengikan oksidasi yang umum dijumpai yaitu reaksi oksidasi pada ikatan rangkap dari asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh mempunyai ikatan rangkap yang mempengaruhi reaksi ini menyebabkan lemak menjadi keras dan kental. Peroksida merupakan hasil antara yang biasanya dipakai sebagai ukuran tingkat ketengikan (Kaced, et al., 1984). Ketengikan oksidatif merupakan reaksi autocatalytic dimana laju reaksi meningkat sejalan dengan meningkatnya waktu penyimpanan. Hal ini disebabkan karena adanya hasil oksidasi awal yang dapat mempercepat reaksi oksidasi selanjutnya, dan reaksi ini dikenal sebagai reaksi berantai (Schultz, et.al., 1962).


Pemecahan unsur lemak oleh ion-ion hidrogen menyebabkan terjadinya reaksi awal terbentuknya lemak radikal bebas dan hidrogen radikal bebas yang merupakan awal kerusakan lemak. Kondisi oksigen atmosfir bereaksi dengan lemak radikal bebas membentuk molekul lemak radikal bebas peroksida, yang berlanjut membentuk molekul hidroperoksida yang stabil dan lemak radikal bebas lain. Tahap akhir oksidasi lemak terjadi reaksi antar lemak radikal bebas, antara lemak radikal bebas dengan lemak radikal bebas peroksida, dan antar lemak radikal bebas peroksida sehingga membentuk senyawa peroksida (Patterson,1989). Lama penyimpanan akan meningkatkan oksidasi lemak dedak padi yang ditunjukkan dengan bertambahnya bilangan peroksida (Syamsu, 2000a).

ASPEK MIKROBIOLOGI DALAM PENYIMPANAN PAKAN

Selama penyimpanan, pakan dapat mengalami kerusakan akibat adanya aktifitas mikroba seperti tumbuhnya jamur. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jamur pada pakan adalah : 1) aktivitas air, yang dinyatakan dengan aw yaitu jumlah air bebas yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme, 2) konsentrasi ion hidrogen, 3) temperatur, 4) konsistensi ; cair dan padat, 5) status nutrien, dan 6) adanya bahan pengawet (Pitt dan Hocking, 1991). Kerusakan pakan bentuk biji-bijian terjadi karena adanya kontaminasi jasad renik dapat menyebabkan penurunan mutu karena kemungkinan mengandung racun. Sering dijumpai kerusakan bahan yang disimpan lama karena ditumbuhi kapang Aspergillus sp dan Penicillium sp yang tumbuh dominan selama penyimpanan (Syarief, 1985). Kapang Aspergillus flavus tumbuh dimana-mana, baik di udara, air, tanah, bahan pangan maupun pakan seperti jagung, beras dan biji kapas (Moreau dan Moss, 1979).


Kadar air dalam bahan pakan serta kelembaban relatif sangat berpengaruh pada pertumbuhan A.flavus penghasil aflatoksin. Kenaikan kadar air selama penyimpanan akibat pakan menyerap uap air dari udara menyebabkan pertumbuhan jamur semakin meningkat karena bertambah banyak spora jamur dari udara terbawa masuk (Goldblatt, 1969). Kadar aflatoksin dalam dedak padi meningkat seiring dengan meningkatnya kadar air dedak padi selama penyimpanan (Syamsu, 2000b ). Species Aspergillus dan Penicillium sangat cepat tumbuh pada biji-bijian, kacang- kacangan dan produk lainnya selama proses penyimpanan terutama jika kandungan air bahan cukup tinggi (Wyllie dan Morehouse,

1978).
A.flavus dan A.parasiticus memerlukan kelembaban relatif untuk pertumbuhan dengan batas optimum 82 – 85 % dan suhu 30 – 32°C, sedangkan kondisi optimum untuk menghasilkan aflatoksin adalah pada suhu 25 – 30°C dengan kelembaban relatif 85 % dan pertumbuhan jamur tersebut optimum pada kandungan air 15 – 30 % (Indian Council of Agricultural Research, 1987). Aflatoksin adalah racun hasil metabolisme sekunder dari kapang A. flavus dan A. parasiticus yang banyak dijumpai pada berbagai pakan yang berasal dari komoditi pertanian maupun hasil sampingannya. Adanya pengaruh lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang tersebut dan penyimpanan bahan yang kurang memadai menyebabkan kontaminasi aflatoksin dapat terjadi setiap saat dan disetiap tempat (Sutikno, et al., 1993). Aflatoksin diberi nama sesuai penampakan pada kromatografi lapis tipis (TLC) yaitu B1 dan B2 untuk fluoresensi biru dan G1 dan G2 untuk fluoresensi hijau (Muhilal, et al., 1985). Kadar toksisitas dari tiap jenis aflatoksin berdeda, yang paling toksik adalah aflatoksin B1 dengan urutan kadar toksisitas adalah B1 > G1 > B2 > G2 (Giambrone, et al., 1985).


Di daerah tropis dengan kelembaban relatif tinggi, praktis tidak ada bahan yang tidak terkontaminasi oleh aflatoksin (Bilgrami dan Sinha, 1986). Kontaminasi aflatoksin pada pakan ternak dapat dikurangi dengan mengendalikan fungi penghasil aflatoksin dan detoksifikasi (Quitco, 1991). Beberapa bahan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan A.flavus adalah etilen oksida, sulfur oksida, theobromine, etil alkohol, metil alkohol, asam asetat, asam propionat, sodium bisulfat dan amonium polipropionat (Siriacha, et al., 1991).


Pengaruh aflatoksin terhadap kesehatan ternak terutama ternak unggas telah banyak dipublikasikan. Tergantung pada tinggi rendahnya level aflatoksin dalam bahan pakan,jenis dan umur ternak, maka pengaruh negatif aflatoksin dapat bervariasi mulai dari tingkat aflatoksikosis ringan sampai dengan kematian, dan aflatoksin dapat menjadi penyebab kerugian dalam usaha peternakan melalui makanan ternak (Sutikno, et al., 1993).


Kerugian di bidang peternakan yang disebabkan oleh aflatoksin meliputi beberapa hal, yaitu dapat menurunkan kuantitas dan kualitas produksi (telur dan daging),terganggunya fungsi metabolisme dan absorbsi lemak, tembaga, besi, kalsium, fosfor, betakaroten serta memperlemah sistem kekebalan. Selain itu dengan adanya aflatoksin dalam pakan perlu diimbangi dengan kebutuhan energi, protein, vitamin yang lebih tinggi yang menyebabkan biaya produksi menjadi lebih mahal (Hamilton, 1987).

Aflatoksin dapat menurunkan pertambahan berat badan pada itik, kalkun, angsa, burung (Muller, et al., 1970), dan pada ayam menyebabkan pertumbuhan menurun, konversi makanan tidak efisien, pembesaran hati, jantung dan pankreas, serta pucatnya warna jengger, kaki dan sumsum tulang (Smith dan Hamilton, 1970).

PENUTUP
Penyimpanan pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tipe atau jenis pakan, periode atau lama penyimpanan, metode penyimpanan, temperatur, kandungan air, kelembaban udara, serangga, bakteri, kapang, binatang pengerat dan komposisi zat-zat makanan. Kerusakan bahan pakan yang dapat terjadi dalam penyimpanan pakan yaitu : kerusakan fisik dan mekanik, kerusakan kimiawi, kerusakan enzimatik,dan kerusakan biologis dan mikrobiologi. Untuk kerusakan kimiawi, biologis dan mikrobiologi dapat terjadi karena adanya aktifitas kimiawi, seperti terjadinya ketengikan yaitu ketengikan oksidatif dan hidrolisis serta aktifitas biologis dan mikrobiologis, seperti tumbuhnya jamur selama penyimpanan yang dapat menghasilkan toksin sehingga pada akhirnya akan menurunkan kualitas pakan.

DAFTAR PUSTAKA

Bilgrami, K.S and S.K.K. Sinha. 1986. Aflatoxin in India. Proc. Workshop Aflatoxin in
Maize. El Batan, Mexico
Djatmiko, B dan A. Pandjiwidjaja. 1984. Tehnologi Minyak dan Lemak I. Jurusan
Tehnologi Industri Fateta IPB, Bogor
Francis, B.J and J.F. Wood. 1982. Changes in the Nutritive Content and Value of Feed
Concentrates During Storage. In : Rechcigl, M. Jr. (ed.). Handbook of Nutritive
Value of Processed Food. Vol. II Animal Feedstuff. CRC Press, Inc. Boca Raton,
Florida Giambrone,
J.J., U.L. Diener., N.D. Davis., V.S. Panangola and F.J. Hoerr. 1985. Effect of aflatoxin on young turkey and broiler chickens. Poultry Sci. 64 : 1678 – 1684
Goldblatt, L.A. 1969. Introduction of Aflatoxin. In : L.A. Goldblatt (ed.). Aflatoxin
Scientitic Background, Control and Implication. Academic Press, New York
Gunawan dan B. Tangendjaja. 1986. Pengaruh kadar asam lemak bebas dalam ransum
terhadap pertumbuhan ayam pedaging. Ilmu dan Peternakan 2 (4) : 159 – 162
Hall, C.W. 1970. Handling and Storage of Food Grains in Tropical and Subtropical Areas. FAO, Rome
Hall, C.W. 1980. Drying and Storage of Agricultural Crops. The AVI Publishing Co, Inc. Westport, Connecticut
Hamilton, P.B. 1987. Why the Animal Industry Worries about Mycotoxin. Proc.
Symposium on Recent Development in the Study of Mycotoxin, Illinois
Hattab, S. 1977. Ketengikan (rancidity) ransum makanan ternak dan akibatnya. Warta
Pertanian 7 (41)Indian Council of Agricultural Research. 1987. Aflatoxin in Groundnut, Technologies for Better Crops. Krishi Anusandhan Bhavan, New Delhi
Kaced., Hoseney. R.C and E. Varrino-Marston. 1984. Factors affecting rancidity in
ground pearl millet (Pennisetum americanum L. Leeke). Cereal Chem. 61 (2) : 187
– 192
Moreau, C and M. Moss. 1979. Mold, Toxins and Food. John Wiley & Sons. Chichester,
New York, Brisbane
Muhilal., Shinta., R. Syarief., dan S. Saidin. 1985. Cemaran Aflatoksin pada Bahan
Makanan serta Bahayanya untuk Manusia dan Hewan. Lokakarya Nasional Pasca
Panen, Cisarua Bogor
Muller, R.D., C.W. Carlson., G. Simaniuk and G.S. Harshfield. 1970. The response of
chicks, duckling, goslings, pheasants and poults to graded level of aflatoxin.
Poultry Sci. 49 : 1346 – 1350
Patterson, H.B.W. 1989. Handling and Storage of Oilseed, Oils Fats and Meal. Elsevier
Applied Science, London and New York
Pitt, J.I and A.D. Hocking. 1991. Significance of Fungi in Stored Products. In : Fungi and Mycotoxin in Stored Products. ACIAR Proceedings.
Pomeranz, Y. 1974. Biochemical, Functional and Nutritive Change During Storage. In :
Storage of Cereal Grain and Their Product. Am. Assoc. of Cereal Chemist, St. Paul
Minnesota
Quitco, R.T. 1991. Aflatoxin Studies in The Philippines. In : Fungi and Mycotoxin in
Stored Product. ACIAR Proceedings.
Schultz, H.W., E.A. Day and R.O. Sinnhuber. 1962. Simposium on Food : Lipid and Their
Oxidation. The AVI Publishing Co, Inc, Westport, Connecticut
Siriacha, P., P. Tanboon-Ek and D. Buangsuwon. 1991. Aflatoxin in Maize in Thailand.
In : Fungi and Mycotoxin in Stored Products. ACIAR Proceeding.
Smith, J. W and P.B. Hamilton. 1970. Aflatoxicosis in the broiler chicken. Poultry Sci. 49 : 207 – 215
Sutikno, A.I., T. Haryati dan D. Suherman. 1993. Kontaminasi aflatoksin pada ransum
itik. Ilmu dan Peternakan. 6 (1) : 37 – 41
Syamsu, J. A. 2000a. Pengaruh waktu penyimpanan dan jenis kemasan terhadap kualitas
dedak padi. Bul.Nutrisi dan Makanan Ternak, Vol.1 (2) : 75-84
Syamsu, J. A. 2000b. Penggunaan Zeolit dan Kapur Untuk Mempertahankan Kualitas
Dedak Padi Selama Periode Penyimpanan. Bul. Ilmu Peternakan & Perikanan, Vol.
VI (1) : 111-120